Jumat, 05 Juni 2009

gotong -royong kian pudar

Manusia tak dapat mengingkari
Yaman yang telah berubah. waktu aku kecil, sering kulihat orang orang yang bergotong-royong membuat rumah .namun sekarang suasana yang dalu hilang. jangankan hal- hal untuk membuat rumah.
tradisi yang dalu ku anggap saling tolong menolong kian pupus ter kikis zaman . andaikan waktu dapat di putar balikan, aku ingin mengulang yaman yang indah itu.sayang waktu tak dapat di ulang
di manakah hilangnya rasa guyup rukun. di benak ku, mungkin rasa ke manusianya itu telah ter kikis oleh rasa egois yang tinggi. manusia saling berlomba-lomba saling rebut harta, pangkat, dan kedudukan.namun manusia melupakan satu hal yang mana itu semua adalah semu. aku tidak munafik. semua itu perlu, tapi janganlah di per budak oleh harta, pangkat, derajat,dan martabat.

dahulu bangsa ini merdeka.kata ya merdeka berkat rasa saling baur-membaur .bantu membantu,saling tolong- menolong,dan sifat gotong-royong masyarakat kita masih bayak yang mempunyai rasa,gotong royong mungkin bangsa kita akan jaya dan disegani oleh bangsa lain
namun itu semua hanya sebuah mimpi. sungguh ironis dahulu presiden kita bung karno mengajarkan gotong-royong sebagai wujud dari paham Marhaenisme yang isinya dari ajaran tersebut sungguh mulia.karena ajaran gotong royong kita bisa saling membaur memajukan bangsa ini.namun kini gotong royong telah ter kikis,oleh ego yang tinggi hanyalah waktu dan zaman yang tau akan semua itu.

sumber gambar google

5 komentar:

  1. Meski memudar, gotong royong masih hidup di pedesaan. Selama kita masih memelihara sikap tolong menolong, gotong royong akan tetap hidup di masyarakat kita.

    Makasih udah mampir ke blogku. Salam.

    BalasHapus
  2. gotong royong / guyup masih terasa di masyarakat perkampungan atau di kota-kota kecil di Indonesia..

    Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya.

    BalasHapus
  3. kita hanya bisa berharap semoga nilai-nilai kebersamaan yang telah terlewatkan itu akan mengalami metamorfosa untuk kembali terulang di masa kini dan mendatang. Layaknya mode yang mengalami perputaran peristiwa untuk kembali ke titik awal. Kembali seperti semula sesuai dengan kodrat alam. Tapi semula bukan berarti mengalami kemunduran. Akan tetapi kembalinya sifat-sifat asli yang lebih alamiah dengan dukungan untuk mengikuti perkembangan jaman yang semakin maju.

    BalasHapus